:) :) :) :) :) :) :) :)
Blog ini masih dalam taraf perbaikan!

بِسْمِ اﷲِالرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Mencari ilmu


Mencari ilmu





Cabang iman 17-20, disebutkan dalam bait syair:



وَاطْلُبْ لِعِلْمٍ ثُمَّ لَقِّـنْهُ الْوَرَى * عَظِّمْ كَلاَمَ الرَّبِّ وَاطْهُر تُعْصَمُ



Carilah ilmu, ajarkan kepada manusia; agungkanlah kalam Tuhanmu dan bersucilah, pasti engkau terjaga dari bencana.




Indeks

  1. Mencari ilmu

  2. Menyebarkan ilmu agama

  3. Mengagungkan dan menghormati al-Quran

  4. Bersuci




Mencari ilmu




Sabda Rasulullah saw riwayat dari Abdullah bin Mas'ud:




مَنْ تَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ يَنْتَفِعُ بِهِ فِى آخِرَتِهِ وَدُنْيَاهُ كَانَ خَيْرًا لَهُ مِنْ عُمْرِ الدُّنْيَا سَبْعَةَ آلاَفِ سَنَةٍ صِيَامَ نَهَارِهَا وَقِيَامَ لَيَالِيْهَا مَقْبُوْلاً غَيْرَ مَرْدُوْدٍ



Barang siapa yang mempelajari satu bab dari ilmu yang dia dapat memperoleh manfaat dunia akhirat, maka hal itu lebih baik baginya dari pada umur dunia 70.000 tahun yang dipergunakan puasa pada siang hari dan salat pada malam hari dalam keadaan diterima, tidak ditolak.




Dari Mu'adz bin Jabal katanya: Rasulullah saw bersabda:




تَعَلَّمُوْا الْعِلْمَ فَاِنَّ تَعَلُّمَهُ ِللهِ حَسَنَةٌ وَدِرَاسَتَهُ تَسْبِيْحٌ وَالْبَحْثَ عَنْهُ جِهَادٌ وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ وَتَعْلِيْمَهُ صَدَقَةٌ وَبَذْلَهُ ِلاَهْلِهِ قُرْبَةٌ وَالْفِكْرَ فِى الْعِلْمِ يَعْدِلُ الصِّيَامَ وَمُذَاكَرَتَهُ تَعْدِلُ الْقِيَامَ



Pelajarilah ilmu, sebab mempelajari ilmu karena Allah adalah kebaikan, mendaras ilmu sama dengan bertasbih, membahas ilmu sama dengan berjuang, mencari ilmu adalah ibadah, mengajarkan ilmu adalah sedekah, memberikan ilmu kepada yang memerlukan adalah pendekatan diri kepada Allah, memikirkan ilmu sebanding dengan pahala puasa dan memusyawarahkan ilmu sebanding pahala salat malam.




Rasulullah saw bersabda:





اُطْلُبِ الْعِلْمَ وَلَوْ كَانَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ بَحْرٌ مِنَ النَّارِ



Tuntutlah ilmu, meskipun di antara kamu dan ilmu terbentang lautan api.




Sabda Rasulullah saw:




اُطْلُبِ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلَى اللَّحْدِ




Tuntutlah ilmu sejak dari ayunan sampai ke liang lahat.




Mempelajari ilmu adalah wajib setiap saat dan keadaan. Sebagian dari para ulama salaf (ulama dahulu) berpendapat bahwa ilmu ada empat macam:




  1. Ilmu untuk membetulkan amalan agama.

  2. Ilmu kedokteran untuk menyehatkan badan.

  3. Ilmu falak untuk menentukan waktu salat.

  4. Ilmu nahwu untuk membetulkan bacaan.





Ilmu dapat dihasilkan dengan dua cara:




  • Usaha, yaitu ilmu yang dapat diperoleh dengan jalan belajar dan membaca secara terus menerus.

  • Mendengarkan, yaitu belajar dari para ulama dengan mendengarkan permasalahan agama dan dunia. Hal ini tidak dapat berhasil kecuali dengan mencintai para ulama, bergaul dengan mereka, menghadiri majlis-majlis taklim mereka dan meminta penjelasan dari mereka.




Orang yang menuntut ilmu wajib berniat dalam usaha menghasilkan ilmu tersebut:




  • mencari keridlaan Allah,

  • mencari kebahagiaan akhirat,

  • menghilangkan kebodohan dirinya dan semua orang yang bodoh,

  • menghidupkan agama,

  • mengabadikan agama dengan ilmu, dan

  • mensyukuri kenikmatan akal dan kesehatan badan




Ia tak boleh berniat agar manusia menghadap kepadanya, mencari kesenangan dunia dan kemuliaan di depan pejabat dsb.



Menyebarkan ilmu agama




Nabi Muhammad saw bersabda:




لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ



Hendaklah orang yang hadir di antara kamu sekalian menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.




Wajib bagi seseorang yang mendengarkan untuk menyampaikan segala sesuatu yang didengarkan kepada orang yang tidak hadir. Hadits ini ditujukan kepada para sahabat dan orang-orang sesudah mereka sampai hari kiamat. Jadi wajib bagi seseorang yang memiliki (ahli) ilmu untuk bertabligh. Setiap orang yang mengetahui satu masalah adalah ahli ilmu dalam masalah tersebut. Setiap orang awam yang mengetahui syarat salat, wajib mengajarkan kepada orang lain. Jika ia tidak mau mengajarkan, maka ia bersekutu dalam dosa dengan orang yang belum mengetahuinya.




Pada setiap masjid dan tempat wajib ada seorang ahli agama yang mengajar kepada manusia dan memberikan pemahaman kepada mereka mengenai masalah-masalah agama. Demikian juga halnya di setiap desa. Setiap ahli agama setelah selesai melaksanakan fardlu 'ain, yaitu mengajar di daerahnya sendiri, melakukan fardlu kifayah, yaitu keluar ke daerah yang berdekatan dengan daerahnya, untuk mengajarkan agama dan kewajiban syariat kepada penduduk desa tersebut. Ahli agama tersebut wajib membawa bekal untuk dimakan sendiri, dan tidak boleh ikut makan makanan orang yang diajar.




Jika sudah ada salah seorang yang menunaikan kewajiban ini, maka gugurlah dosa dari para ahli ilmu yang lain. Jika tidak ada sama sekali orang yang menunaikan kewajiban ini, maka dosanya akan menimpa semua orang. Orang yang alim berdosa karena keteledorannya tidak mau pergi ke daerah tersebut; sedangkan orang yang bodoh berdosa karena keteledorannya dalam meninggalkan menuntut ilmu. Ini adalah pendapat Syeikh Ahmad as-Suhaimi yang dinukil oleh Imam al-Ghozali.




Ada 3 tanda bagi orang alim yang ingin mencari kebahagiaan akhirat:




  1. Ia tidak mencari kesenangan dunia dengan ilmunya.

  2. Kesibukannya dalam ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat, sehingga ia memperhatikan ilmu yang dapat dipergunakan untuk memperbaiki batin dan hatinya.

  3. Ia menyandarkan ilmunya pada taklid (mengikuti) kepada Pemilik Syariat, Nabi Muhammad saw, dalam ucapan dan perbuatannya.




Tanda orang yang tidak mencari kesenangan dunia dengan ilmunya ada lima:




  1. Ucapannya tidak menyalahi perbuatannya, sehingga ia menjadi orang yang pertama kali melakukan perintah dan meninggalkan larangan.

  2. Ia memperhatikan ilmu menurut kadar kemampuannya, dan senang kepada ketaatan serta menjauhi ilmu yang memperbanyak perdebatan.


  3. Ia menjauhi kemewahan dalam makanan, tempat tinggal, perkakas rumah tangga dan pakaian.

  4. Ia menahan diri dari mempergauli para pejabat, kecuali untuk memberi nasihat kepadanya atau untuk menolak kedlaliman, atau untuk memberikan pertolongan dalam hal yang diridlai oleh Allah Ta'ala.

  5. Ia tidak cepat-cepat memberikan fatwa kepada orang yang bertanya, tetapi mengatakan: "Tanyakan kepada orang yang ahli memberi fatwa!", karena kehati-hatiannya. Ia mencegah diri dari berijtihad dalam sesuatu masalah, jika masalah tersebut tidak jelas bagi dirinya. Bahkan ia mengatakan: "Saya tidak tahu!" apabila ijtihad tersebut tidak mudah baginya.



Mengagungkan dan menghormati al-Quran




Mengagungkan dan menghormati Al-Quran harus dilakukan dengan jalan:




  • Membacanya dalam keadaan suci.


  • Tidak menyentuhnya kecuali dalam keadaan suci.

  • Bersikat gigi pada waktu ingin membacanya.

  • Duduk dengan lurus dan tidak boleh bertelekan pada waktu membaca al-Quran selain dalam salat.

  • Memakai pakaian yang bagus, karena orang yang membaca al-Quran pada hakekatnya beraudiensi dengan Tuhannya.

  • Menghadap kiblat pada waktu membaca al-Quran.

  • Berkumur setiap kali berdahak.

  • Berhenti membaca al-Quran pada waktu menguap (angop = Jw).

  • Membaca al-Quran dengan serius (bersungguh-sungguh) dan tartil.

  • Membaca setiap huruf dengan benar.


  • Tidak meninggalkan al-Quran dalam keadaan terbuka pada waktu meletakkannya.

  • Tidak meletakkan sesuatu di atas al-Quran, sehingga mushaf al-Quran selamanya berada di atas segalanya.

  • Meletakkan mushaf Al-Quran di pangkuannya atau di atas sesuatu di mukanya dan jangan meletakkannya di atas lantai ketika membacanya.

  • Tidak menghapus tulisan al-Quran dengan ludah, tetapi harus dengan air.

  • Tidak mempergunakan mushaf yang telah rusak dan kertasnya telah rapuh, agar mushaf tetap utuh dan tidak menyia-nyiakannya.

  • Tidak membaca al-Quran di pasar, tempat keramaian, dan tempat pertemuan orang-orang bodoh.

  • Tidak membuang basuhan tulisan al-Quran untuk berobat di tempat sampah, tempat najis, atau tempat yang diinjak-injak, tetapi harus dibuang di tempat yang tidak diinjak oleh orang, atau menggali lubang di tempat yang suci dan menyiram badannya di lubang tersebut, lalu lubang tersebut ditutup kembali, atau menyiram badannya di sungai yang besar, sehingga airnya mengalir bercampur dengan air sungai.

  • Menyebut nama Allah (membaca basmalah) pada waktu menulis al-Quran atau meminum tulisan al-Quran dan mengagungkan niat dalam hal tersebut, karena Allah akan memberinya menurut kadar niatnya.



Bersuci




Dalam al-Quran surat al-Maidah ayat 6 Allah swt berfirman:




يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُؤُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْا وَاِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى اَوْ عَلَى سَفَرٍ اَوْ جَاءَ اَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ اَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَآءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيْدُ اللّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلكِنْ يُرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ




Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan mata kaki. Jika kamu junub, mandilah. Jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (WC) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia ingin membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.




Rasulullah saw bersabda:




اَلطُّهُوْرُ شَطْرُ الإِيْمَانِ



Bersuci itu separuh dari iman.




Menurut Syeikh Suhaimi hadits ini berarti bahwa berwudlu lahir batin dilihat dari pahalanya adalah separoh dari iman. Syeikh Hatim al-Asham berkata kepada 'Ashim bin Yusuf: "Apabila waktu salat telah datang, berwudlulah engkau dengan dua wudlu, yaitu wudlu lahir dan batin!" 'Ashim bin Yusuf berkata: "Bagaimana wudlu tersebut?" Syeikh Hatim al-Asham berkata: "Wudlu lahir sudah engkau ketahui. Sedangkan wudlu batin ialah dengan bertaubat, menyesali perbuatan dosa, meninggalkan perasaan dendam, menipu, keragu-raguan, kesombongan, dan meninggalkan kesenangan kepada penampilan dunia, pujian manusia, dan politik praktis.




Sahabat 'Umar bin Khattab berkata: "Wudlu yang bagus dapat menolak kejahatan syaithan dari Anda".





read more

Membangun konsep diri seorang pelajar Muslim

Banyak pelajar gagal bukan karena tidak punya potensi dan kemampuan. Kegagalan sering terjadi akibat kesalahan konsep diri.sadari bahwa diri kita unik dan Allah menciptakan manusia berbeda satu sama lainnya dan memiliki keunikan tersendiri. Sehingga be yourself, jadilah diri sendiri dan janganlah meniru orang lain ataupun mengikuti teman yang penting adalah jujur pada diri sendiri, sadari tujuan, keinginan, kekuatan dan kelemahan diri. Apa yang telah saya lakukan untuk memaksimalkan kemampuan saya ? apa yang telah saya lakukan untuk membantu mengerjakan semua yang saya bisa? Tetapkan standar internal anda dalam rangka menjadi sosok manusia yang dicita-citakan.

PEMAKNAAN ISTILAH KONSEP DIRI.

Konsepdiri sering diidentikan dengan istilah penghargaan diri (self esteem) yang sebenarnya sudah ada sejak lahir dengan fitrahnya seperti bayi yang polos dan self esteem kita berkembang seiring berkembangnya interaksi dengan orang lain.

Dale Carnegie (1993:31) mengartikan sebagai “suatu gabungan-suatu montase- dari semua gambaran mental yang anda ambil untuk diri anda - gambaran fikiran tentang bagaimana anda bertingkah laku.”

Definisi self esteem yang diungkapkan seorang psikolog, Dr. Palladino (1994) mendefinisikan sebagai :

* Kepercayaan terhadap diri sendiri.
* Kemampuan untuk melihat posisi diri di dunia ini secara realistis dan optimis
* Keyakinan akan kemampuan dalam membuat perubahan dan menghadapi tantangan hidup.
* Kapasitas untuk memahami kelemahan diri dan berusaha memperbaiki diri
* Pengetahuan tentang dri sendiri serta penerimaan akan pengetahuan tersebut.
* kemampuan untuk mengakui keunikan diri dan berbangga terhadap apa yang membuat diri kita unik
* keperacayaan akan nilai diri dan penghargaan akan kemampuan yang dimiliki
* kepercayaan tentang apa yang kita dapat lakukan, cara pandang positif dan keyakinan diri untuk melakukan sesuatu yang baru.
* Kemampuan untuk menggali dan menerapkan keterampilan dalam prilaku positif
* Pemahaman bahwa kita berharga bagi diri sendiri dan orang lain
* Mengetahui siapakah saya, apa yang saya dapat lakukan serta bagaimanakah memperoyeksikan pengetahuan ini lewat tindakan nyata.
* Mencintai diri sendiri, bagaimanapun juga penampilan diri dimiliki setiap orang.
* Menyukai diri sendiri, menghargai diri sendiri dan mau mengahadapi resiko dan kegagalan yang mungkin menghadang.
* Menerima diri saya apa adanya dan memiliki kekuatan untuk mendesain kehidupan yang saya inginkan.

KONSEP DIRI RENDAH = SELF ESTEEM RENDAH

Seringkali kita memandang diri kita rendah dan tak berguna. Cara pandang negative terhadap diri sendiri biasanya diiringi persepsi negative terhadap orang lain, adalah ciri rendahnya self esteem alias penghargaan diri.

Bahaya kurangnya self esteem yang rendah akan memicu dua sikap ekstrim yang merugikan. Pertama, sikap pasif yaitu tidak tegas dalam melakukan berbagai tindakan akibat adanya rasa takut membuat orang lain tersinggung, merasa diperintah atau merasa digurui yang akan membuat mereka membenci dan mengucilkan kita. Padahal ketegasan adalah kunci kedisiplinan yang merupakan modal penting bagi keberhasilan diri dan aktifitas kita. Kedua sikap agresif, memaksakan gagasan, tidak mau menerima masukan dari orang lain dan cenderung mengundang perdebatan dibanding penyelesaian masalah. Padahal sikap menentang dan mengabaikan ide-iide orang lain berarti menghambatkan tercapainya keputusan yang tepat dan akurat. Juga berarti merugikan diri sendiri, orang lain dan organisasi dimana kita ingin tetap eksis didalanya.

Ciri-ciri konsep diri yang rendah ini diakibatkan oleh :

1. Kesalahan persepsi terhadap diri sendiri dibandingkan orang lain : anggapan bahwa orang lain lebih baik penampilannya, lebih cemerlang idenya, lebih diperhatikan banyak orang dan akhirnya kita merasa tertinggal jauh dan untuk merubahnya tidak mampu akhirnya tidak punya keinginan untuk berubah atau menerima tantangan.

2. Koncep diri yang rendah dipengaruhi cara berfikir tentang persepsi orang lain terhadap anda : penuh prasangka dengan apa yang dibicarakan teman tentang diri anda, kritikan dianggap sebagai cemoohan, iri hati dan usaha menjatuhkan diri anda dimuka public, akhirnya tidak pernah mempercayai orang lain, apalagi berintropeksi terhadap apa yang telah dilakukan.

BAGAIMANAKAH MEMBANGUN SELF ESTEEM

* Belajar menyukai diri sendiri.
Menyukai diri sendiri bukan berarti sombong tapi selalu memiliki perasaan positif dan salah satu cara manusia mensyukuri atas segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Bukan berarti malas melainkan mendorong diri kita untuk terus berjuang untuk menjadi pribadi yang sholeh secara emosional maupun secara spiritual.
* Kembangkan pemikiran positif (husnudhon)
Cara berfikir kita, mengendalikan hidup kita. Bila kita berfikir sesuatu dapat terjadi maka itu akan terjadi karena tindakan kitalah yang membuatnya terjadi. Pemikiran positif inilah mendorong sikap optimis, berjiwa pemenang, berani menghadapi tantangan dan resiko.
* Perbaiki kualitas hubungan interpersonal Perbaikan kualitas hubungan bisa meningkatkan tingkat kedewasaan dan melahirkan pribadi baik, bergaulah dengan siapapun pelajarilah karakter sifat mereka dan belajar memahami kelemahan mereka serta bergaulah dengan teman yang memiliki kualitas intektual dan keshalehan bisa merubah prilaku kita lebih terarah, perbaiki hubungan dengan orang-orang yang kita kasihi hindari pertentangan dengan orang tua kita, adik atau kakak kita, jadilah pelajar yang manis dan mau mengalah serta perbaiki dengan guru yang tidak kita sukai
* Bersikap proaktif Jadilah seseorang punya inisiatif sendiri, jadilah seorang yang menyodorkan tangan dan jabatlah orang lain dengan kuat. Dalam kondisi tententu jadilah pelajar yang penuh inisiatif dan sensitive terhadap lingkungan sekeliling kita, banyaklah bertanya atas sesuatu yang bisa memberikan muatan posistif bagi peningkatan pemikiran dan jadilah pelajar yang aktif sambil kemasi penampilan diri biar terlihat smart dan menarik.
* Jaga keseimbangan hidup Salah satu kelemahan pelajar yang juga aktifis tidak bisa membagi antara organisasi, belajar dan keluarga, sehingga memberikan citra yang ngetaif. Padahal aktifitas adalah salah satu pelatihan dan pembiasaan saat nanti berguna bagi peningkatan karakter pribadi dimasyarakat. Intinya seimbangkan aktifitas anda dan buatlah agenda
* KONSEP DIRI PELAJAR MUSLIM Konsep diri seorang muslim : “Suatu potensi yang dimiliki manusia sebagai mahluk pribadi dan mahluk social dalam mengkomunikasikan dengan permasalahan hidup melalui pencerahan spiritual, kepribadian dan pengolahan daya fikir sehingga memantapkan pola tindakan secara benar dan bisa mengsinergikan dengan aktifitas sehari-hari secara seimbang antara pekerjaan, organisasi dan pergaulannya dengan manusia lainnya dalam kerangka nilai Islami” Atau bisa juga bisa diartikan sebagai nilai-nilai yang mampu merubah dan memberikan kekuatan pribadi sehingga bisa tetap survival dalam memperjuangkan hidupnya.

A. Penataan spiritual religiouitas (salimul aqidah, sahihul ibadah & matinul khuluq).

* Pemahaman Aplikatif aqidah/keyakinan (eksistensi Allah, nilai kebenaran, nilai kritis, nilai kerja, nilai pergaulan) yang teraplikasi dalam cara ibadah, cara belajar, cara bergaul, cara organisasi dan cara bersikap terhadap orang lain yang melahirkan konsistensi (istiqomah).
* Konsistensi pribadi ini akan melahirkan konsep diri positif, keberanian, rasa percaya diri, ketenangan jiwanya terhadap berbagai permasalahan hidup baik sebagai pelajar, sebagai anak dan sebagai seorang remaja.
* Strateginya adalah kenali diri sendiri, kemudian binalah diri (tarbiyah zakiyah) atau memenej diri sendiri dengan aktifitas harian kita yang menularkan virus baik bagi teman dan sekitarnya.

B. Penataan kematangan pribadi (mujahidu linnafsi).

Penataan spiritual akan berpengaruh pada tingkat kematangan pribadi, sehingga anda perlu untuk melatih dan mengasahnya dengan cara :

* Penataan kekuatan pola berfikir (mutsaqol fikri) dengan banyak membaca, bertanya dan banyak mengikuti majlis ilmu serta bergaulah dengan teman yang sholeh dari prilaku dan cerdas dalam inteletual.
* Satukan (Sinergitas) diri anda dengan posisi anda sebagai pelajar, aktifis organisasi dan proaktif dalam pergaulan (tarbiyatul jakiyun) salah satunya sibukan diri anda dalam aktifitas organisasi dan bergaulah dengan club-club yang bisa menambah teman dan benahi pemahaman spiritual anda dengan mengikuti kajian agama, sehingga anda menjadi pelajar yang bernilai yang akan mendapat respek dari siapapun.

C. Konsep diri dengan organisasi.

* Masuklah organisasi dan jadilah pelaku bukan pengikut.
* Jadilah inisiator pertama dan pertahankan semangat.
* Doronglah teman anda untuk mengikuti jejak anda dan tularkan virus sebagai aktifis.
* Tidak menyodorkan diri jadi pemimpin, tapi tidak menolak saat dibebani amanat.
* Bertanggungjawa dengan semua resiko dan hindari mencari kambing hitam atau menyalahkan orang lain.
* Perkuat semangat anda dalam berorganisasi dengan membina pola pikir anda dengan nilai-nilai Islami.
* Hindari konflik dengan mencari titik persamaan dengan lebih mengenenaghkan diskusi dan musyawarah.
* Bepegang teguh pada prisnsip yang dianggap benar dan berani mengatakan tidak terhadap sesuatu yang tidak sesuai.

D. Konsep diri dengan orang lain

* Kembangkan keterampilan Komunikasi dan relationshif
* Jadilah kebanggaan Keluarga
* Membangun komitmen dengan tim.
* Regenerasi
* Sinergitas

Demikianlah membangun konsep diri bukanlah hal yang mudah membutuhkan adanya proses konsisten dalam berbagai hal yaitu adanya pembinaan rutin, Kontrol Diri dan adanya mediator pembinaan. Tapi ada yang lebih praktis konsep diri bisa dibentuk sendiri melalui pembinaan dan memenej diri sendiri dengan teratur.

Sumber : http://haroqi.multiply.com/journal/item/34
read more

Seni berorganisasi

Assalamu’alaikum Wr. Wb,



Salam kebebasan berpikir…!

Organisasi. Perlukah kuberikan suatu definisi tentang sesuatu hal yang tidak tabu lagi bagi kita?
Organisasi. Bahkan kita termasuk dalam penggiat-penggiat di dalamnya, benar?

Sering memang orang mengira bahwa manusia hanya bisa bergorganisasi dengan dinaungi suatu wadah atau lembaga lah, bisa dikatakan seperti itu, dan itu dianggap aturan baku mengenai definisi sebuah nama dari:
O-R-G-A-N-I-S-A-S-I. Namun, sadarkah kita bahwa ketika kita sedang sendiri pun ternyata kita sedang berorganisasi. Mengorganisasikan pikiran kita. Mengorganisasikan ide-ide kita, mengorganisasikan harapan-harapn kita, dan sekelumit diri sisanya. Memang, lazimnya (dan kemudian dianggap sebagai aturan baku), bahwa sebuah organisasi tersebut dicirikan oleh gerakan-gerakan tertentu, yang biasanya memfokuskan diri pada hal tertentu yang diwadahi oleh lembaga tertentu, untuk mencapai tujuan tertentu. Tepat.Jadi lah hal tersebut menjadi makna Organisasi secara harfiah menurut kita.

Organisasi dan Polemiknya
Lantas, bukan hal itu yang kemudian akan saya sikapi di sini. Tentang pembentukan makna, arti harfiah, bagaimana dia bisa mendapat julukan seperti itu, bukan, bukan yang demikian. Saya rasa setiap dari kita sudah mengetahui pasti mengenai hal tersebut. Satu hal yang ingin kuungkap disini adalah mengenai polemik didalamnya yang mungkin berjalan kontradiktif dengan pemikiran dan sifat dasar manusia. Apakah itu? Yuk kita bahas…!

Sering kita mendengar berbagai polemik dan keluhan seputar berorganisasi. Yang kemudian kusebut dengan seni berorganisasi. Yah, disitulah nikmatnya dalam sebuah organisasi. Ketika kepala-kepala jenius berisi otak encer yang konon kapasitasnya melebihi sejuta gygabite, lebih dari sekedar komputer masa depan abad 3 juta setelah millennium pun, dikumpulkan dalam suatu tempat demi membahas sesuatu. Apa yang terjadi? Itulah kemudian yang kita kenal dengan perdebatan. Mulailah kita ambil contoh terkecil dari organisasi sebuah suasana disudut kota tentang seorang penjual sayur yang sedang berorganisasi (tentu, ala tukang sayur dong) dengan ibu-ibu komplek yang ingin menawar, atau kemudian kita melihat kisah para politikus yang dengan berorganisasinya mencitrakan suatu kehidupan yang memenuhi apa yang disebut oleh seorang filsuf sebagai sifat dasar manusia. Homo homini lupus. Atau tentang mahasiswa yang menggorganisasikan kehidupannya dalam sebuah kegiatan akademik atau dalam sebuah organisasi kemahasiswaan. Yah, begitulah. Organisasi.

Dalam sebuah organisasi, kontra dan pro sudah dianggap biasa. Kritik dan saran sudah dianggap sebuah keharusan demi evaluasi sebuah organisasi agar kedepan lebih baik lagi. Pun sebuah pentas perdebatan, dianggap lumrah demi menciptakan sebuah dinamika organisasi. Bikin hidup lebih hidup katanya. Lantas, bagaimana dengan sebuah kritik atau pun saran yang lebih bisa kita anggap sebagai caci maki dan rekomendasi hampa dan mengada-ada. Oh, itu biasa bos. Itulah yang namanya dinamisasi hidup di budaya baru dunia kita. Image Culture. Budaya persepsi yang mengitari dan mungkin mengotori tatanan hidup kita Sudah sah dianggap sesuatu kebutuhan yang hukum Tuhan pun bisa luput dengan culture yang satu ini. Apakah itu? Itulah ketika persepsi tentang sesuatu dianggap benar oleh sekumpulan kemudian dilegalkan menurut pelegalan perkumpulan tersebut, maka benarlah apa yang mereka anggap tersebut. Terlepas dari apakah persepsi tersebut bertentengan dengan hukum Tuhan atau tidak, asal persepsi kita sama ya terhadap yang kita anggap yes, dan tidak terhadap apa yang kita anggap no, lanjut.

So what??
Berkaca dari keadaan tersebut, dimana suara nurani mungkin tidak didengar lagi oleh khalayak. Atau juga koridor norma aturan Tuhan tidak dikenal lagi oleh masyarakat, perlu lah kita mempelajari sesuatu yang baik dari sebuah seni berorganisasi. Mari luruskan bersama apa yang selama ini yang sudah jelas keliru namun tetap kita anggap sebagai suatu kebenaran demi tercapainya my own final destination versi kita. Dua hal yang ingin kuutarakan disini adalah dari sebuah budaya kritik di dunia kita, hingga sebuah aliran yang mempertautkannya, kepercayaan. Berkaca dari sebuah organisasi besar manusia, yang pernah ada dan tetap ada hingga sekarang dan juga tak akan pudar kecemerlangannya, walaupun dinamika-dinamika kehidupan dicipta oleh yang namanya manusia, dari dulu hingga sekarang. Dialah Kehidupan

Budaya Kritik
Suatu kelaziman yang kita anggap sebuah kebutuhan apalagi dalam bentuk sebuah organisasi formal, baik dalam lingkup terkecil, himpunan keluarga sejahtera, atau ikatan kerukunan rumah tangga, atau Badan Eksekutif Mahasiswa sekalipun, bahkan sampai yang terbesar di mata kita, kabinet pemerintahan sebuah Negara kita rasa penting memberikan sebuah kritik. Baik itu terhadap institusi, atau terhadap peimimpinnya, anggotanya, semuanya…deh terlepas dari tujuan memang benar-benar ingin mengevaluasi atau sekadar menjatuhkan. Banyak kemudian kita saksikan buah dari sebuah kritik berbuntut pada sebuah perdebatan yang menghasilkan perseteruan dan akhirnya permusuhan, kalau seperti itu, bolehkah saya sebut sebagai kehancuran akibatnya?
Mengapa demikian?
Ketahuilah bahwa kritik itu adalah hal yang sia-siakarena menempatkan seseorang atau intistusi yang di kritik tersebut pada posisi defensive dan menurut logika sifat dasar manusia, si ter-kritik tersebut akan mempertahankan posisinya. Kritik, seperti apa yang disampaikan oleh Dale Carnegie adalah sesuatu yang berbahaya. Karena melukai rasa kebanggaan, melukai perasaan pentingnya,serta membangkitkan rasa benci. Hingga menimbulkan bantah-bantahan. Bukankah kita dilarang berbantah-bantahan, karena buntutnya hanyalah malapetaka? Ada juga pesan seorang tokoh pergerakan islam kontemporer, Hasan Al Banna Rahimullah, dalam sepuluh wasiatnya yang menyuruh manusia menjauhi dari sebuah perdebatan. Karena hal itu adalah sia-sia. Dengan mengkritik, kita tidak membuat perubahan yang langgeng dan seringkali menimbulkan rasa benci. Adalah seorang Hanse Selye, seorang psikolog besar berkata,”kehausan kita akan persetujuan, sama besarnya dengan ketakutan kita terhadap kritik.” Rasa benci yang ditimbulkan oleh kritik (apalagi sudah yang berbentuk hujatan) tetap tidak bisa memperbaiki terhadap situasi terhadap yang kita kritik. apalagi terhadap kritik yang bersifat tidak memberi solusi sama sekali, dan memang murni menghujat. Tunggulah kebencian itu kemudian mengakar dan beranak pinak. Kita akan menemukan berjuta-juta kesia-siaan kritik dalam lembar-lembar sejarah manusia. Begitulah sifat manusia,mereka yang bersalah menyalahkan orang lain selain mereka sendiri. Memang wajar,ketika disuatu oraganisasi kemudian akan timbul masalah-masalah yang mewarnai kemeriahannya. Tapi apakah lantas kita pantas untuk menyelesaikannya dengan kritik? Coba maknai,bahwa seekor burung mempunyai masalah besar terhadap udara. Tapi dengan udara itulah dia bisa terbang. Meskipun itu menjadi musuh besarnya. Namun disatu sisi udaralah teman dekatnya yang kemudian mengajarkan dia untuk bekerja keras, bukan untuk mengkritik diri sendiri, atau kemudian mengutuk udara, atau malah sang pencipta. Toh dia juga tak bisa terbang tanpa udara. Begitulah maksud saya seharusnya kita memaknai ketika sebuah masalah dating menghantam, bukan suatu langkah yang bijak ketika kita harus menyelesaikannya dengan kritik. Sebab hala itu tidak akan pernah selesai. Yakinlah. .. bahkan akan memperurmit masalah,. Kembali ke kritik, tatkala kita berurusan dengan manusia, mari kita ingat bahwa kita tidak sedang berurusan dengan mahluk logika yang penuh norma, melainkan kita berurusan dengan mahluk yang penuh dengan emosi, mahluk yang penuh prasangka, dan dimotivasi oleh rasa bangga dan sombong. Ingat, pekerjaan mengkritik adalah pekerjaan orang-orang yang bodoh. Orang bodoh sangat mahir mengkritik dan hamper semua orang bodoh melakukannya. Masih mau mengkritik dan menjadikan dirimu orang bodoh? Memang, dalam sesuatu keadaan tertentu sebuah kritik yang kemudian kita perhalus bahasanya menjadi saran diperlukan. Tapi keadaan tersebut akan mendukung dan mencapai tujuannya sebagai rujukan evaluasi jika disampaikan dengan cara yang bijak. Mending belajar membuat kripik, meski sama pedasnya dengan kritik, toh kripik bisa membikin kenyang. Kalau kritik??

Kepercayaan
Satu hal lagi yang sering kita lupakan dalam tatanan seni berorganisasi, padahal inilah kemudian yang menjadi sendi kemajuan sebuah organisasi itu sendiri. Dan tanpa inilah apa yang kita sebut-sebut diatas, kritik, menjadi sebuah perusak jamaah(Organisasi). Oh ya, saya lupa memberitahu ya, kita sering mengaitkan kata jamaah tentang perkumpulan orang-orang alim dengan jubah dan peci, serta tasbih ditangan kiri dan kitab suci ditangan kanan. Bukan, bukan hanya itu sebuah organisasi. Sebuah jamaah, adalah sama dengan apa yang kita sebut dengan organisasi. Kembali ke kepercayaan…
Dalam sebuah tulisannya, Ahmad Zairofi berkata, ”selain undang-undang dan tata tertib,hidup ini dibangun atas kepercayaan. Undang-undang hanya mengatur, mengikat,tap kepercayaanlah yang membuktikannya. Sebab tata tertib hanya merapikan, membuat urut-urutan, tetapi kepercayaanlahyang membuat segalanya bisa berjalan.” Tepat. Pondasi awal dari sebuah organisasi adalah kepercayaan. Sebuah organisasi yang berjalan atas azas kepercyaan Insya Alloh tak akan menemui sebuah halanagan yang berarti. Dingatkanlah kembali kita akan sebuah kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang Umar bin Abdul Aziz dalam memimpin sehingga tercipta sebuah refleksi dari kepercyaan tersebut adalah keadilan tegak di organisasi yang dipimpinnya. Khilafah Islamiyah. Bahkan seekor srigala pun bisa hidup rukun dengan kambing. Dimana seseorang bisa beternak kambing sekaligus memelihara serigala di masa kepemimpinannya. Itulah sebuah potret dari nikmatnya kepercayaan.I miss u. khilafah. kepercayaan jugalah yang kemudian membuat seorang Al Fatih Murad mewujudkan mimpi delapan abad umat muslim. Menaklukkan Konstantinopel. Ada sebuah goresan kepercayaan yang berbekas disana.kepercayaan jualah yang menjadikan kita menjadi manusia yang layak dicintai. Bak sebuah kaitan yang saling mempertautkan, kepercayaan akan melahirkan sebuah tekad untuk menjalankan kepercayaan itu sehingga menjadikan kita layak untuk dicintai. Ya, hanya bila kita bermakna,kita layak untuk dicintai. Dan kta akan bermakna hanya bila kita mwujudkan komitmen yang terptri dalam sebuah janji yang berafiliasi dengan sebuah kepercayaan. Lagi lagi sebuah kepercayaan. Teringatlah kembali kita pada sepotong kisah seorang pencuri yang pada suatu hari menemui Rasulullah. Ia ingin menyatakan dirinya masuk Islam. Setelah itu, ia mengisahkan akan penyaki mentalnya. Bahwa ia suka mencuri.. Lalu Rasul memintanya untuk berjanji, bahwa dirinya tidak akan berbohong.lelaki itu pun berjanji. Kemudian perg menjalani hari-harinya. Beberapa waktu kemudian, keinginan untuk mencurimuncul kembali. Tetapi ia lantas teringat janjinya kepada Rasulullah, bahwa ia tidak bole berbohong. Ia lantas membayangkan, bila ia mencuri, lalu kelak ditanya Rasulullah, maka bila ia berkata bohong, ia telah menyalahi janjinya. Tapi bila ia berterus terang, ia akan mendapatkan hukuman. Sejak itu ia tidak mencuri lagi. Apa yang kita dapat dari sepenggal kisah diatas? Sebuah sebuah pelajaran mengenai arti sebuah kepercayaan. Dan si pencuri telah pula belajar itu, bahkan belajar enjaga dan membuktikannya. Kembali lag ke organisasi, tanamkanlah dalam diri akan tekda untuk membudayakan sebuah kepercayaan. Tanpa kepercayaan, niscaya akan roboh apapun yang diusung tersebut. Kepercayaanlah yang kemudian melahirkan keikhlasan dan ketulusan, hingga kemudian melahirkan sebuah kecintaan.

“ kepercayaan adalah rahasia hidup yang paling rumit.”




Wallohu a’lam bisshowab…


Kepada para penggiat organisasi, jalani wajihahmu dengan menerapkan kepercayaan sebagai sendi dasar pembangunnya. Semangat!!!


Di sepertiga malam yang dingin datang menusuk…


Salam kebebasan berpikir…!


Wassalamu’alaikum Wr. Wb


Sumber : http://ardiabara.multiply.com/journal/item/9/Seni_berorganisasi_
read more
 
Powered By Blogger | Portal Design By Vikas bhardwaj's Blog